PUSVETMA LAKUKAN STUDI BANDING KE UINSA

Masih dalam suasana hari nan fitri yakni 11 syawal 1439 H, Pusat Veteriner Farma (Pusvetma) Surabaya bertandang ke UIN Sunan Ampel Surabaya. Studi banding Pusvetma tersebut tak lain adalah dalam rangka bimbingan teknis mengenai pembayaran remunerasi. Para panitia penyelenggara dari Pusat Pengembangan Bisnis (Pusbis) UIN Sunan Ampel Surabaya menyambut para tamu undangan dengan saling berjabat tangan dan bermaaf-maafan, Senin, 25 Juni 2018.

Acara yang dibuka pada pukul 09.30 WIB di Ruang Satuan Pemeriksa Intern (SPI) itu diawali dengan sambutan Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum, Perencanaan dan Keuangan UIN Sunan Ampel Surabaya Dr. H. Zumrotul Mukaffa, M.Ag. Dalam sambutannya, Dr. Zumrotul mengucapkan banyak terima kasih kepada staf kerja Pusvetma atas kunjungan ke UINSA. “Saya mewakili keluarga besar UIN Sunan Ampel Surabaya mengucapkan minal aidzin walfaidzin,” tuturnya.

Acara pun dilanjutkan dengan sambutan dari pejabat pembuat komitmen Pusvetma, Drh. Edy Budi Susila, M.Si. Dijelaskan Drh. Edy, bahwa Lembaga Pusvetma sendiri merupakan unit pelaksana teknis di bidang kesehatan hewan, yang berada dibawah naungan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. “Jadi pusvetma merupakan pusat pengendalian wabah hewan ternak Se-Indonesia, namun fokus kami yakni pada pengamanan produk pakan hewan,” jelasnya.

Setelah mengenalkan instansinya, Drh. Edy pun menyampaikan maksud dan tujuannya bertandang ke UIN Sunan Ampel Surabaya. Yakni guna studi banding dan bimbingan untuk penyusunan pembayaran remunerasi. “Jadi istilahnya kami kesini ini untuk belajar membuat modul remunerasi yang sesuai standar,” pungkasnya mengakhiri sambutan.

Memasuki sesi diskusi tentang implementasi remunerasi, Drs. H. Fadjrul Hakam Chozin, MM., selaku Kepala SPI UIN Sunan Ampel Surabaya menjelaskan mengenai kebijakan umum yang harus diterapkan pada unit kerja. “Yang pertama kita menggunakan paradigm single salary, yakni semua penghasilan diberikan sesuai beban kerja. Jadi semua kinerja pegawai dihimpun menjadi poin. Baru nanti poin tersebut menjadi dasar penetapan remunerasi masing-masing pegawai,” jelas Drs. Hakam. (Humas)